Tampilkan postingan dengan label Motor Racing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motor Racing. Tampilkan semua postingan

Mitos Joki Balap Liar Pakai Ilmu Monyet




Mitos Joki Balap Liar Pakai Ilmu Monyet
Sebagai orang timur, masyarakat kita sangat percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Tidak terkecuali para pelaku balap liar. Mereka sangat percaya dengan hal-hal yang berbau supranatural. Salah satunya, mitos joki balap liar pakai ilmu monyet. Yup, mereka sangat percaya ada beberapa joki yang mempunyai ilmu hitam untuk bisa kencang. Salah satunya ilmu monyet. Ada joki yang terlihat seperti monyet saat mereka tanding di atas motor balap liar.
"Mitos joki balap liar pakai ilmu monyet itu percaya tidak percaya. Pinginnya sih tidak percaya. Tapi, saya sudah pernah melihatnya sendiri. Saat tanding dengan seorang joki yang punya ilmu hitam, saya melihat dia berubah menjadi monyet. Waktu itu saya unggul lumayan jauh. Namun ketika menoleh kebelakang, saya liat mukanya penuh bulu seperti monyet. Motornya juga langsung kencang dan menyalip," ucap Ali, joki balap liar asal Cibinong, Bogor, Jawa Barat yang mengaku sakit satu Minggu setelah kejadian tersebut. 
Mitos joki balap liar pakai ilmu monyet memang terdengar seperti itu. Setiap joki yang punya ilmu hitam akan menampakan dirinya seperti monyet saat sedang ngebut di atas motornya. Namun, menariknya tidak semua orang yang bisa melihat penampakan tersebut. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya.
"Kalau mau melihat ada caranya. Kita harus liat secara terbalik lewat selangka kita. Caranya bungkukan punggung seperti mau mencium lutut. Setelah itu geser kaki kiri ke arah kiri dan kaki kanan ke arah kanan. Lewat celah diantara kedua kaki kita itu kita lihat ke belakang ke arah joki. Kalau dia pakai ilmu hitam akan terlihat mukanya seperti monyet," ucap Jon Ceper, joki yang mengaku sukses terapkan trik ini untuk melihat joki yang gunakan ilmu hitam.
Kalau sobat gimana? Percaya dengan mitos ini? (www.motorplus-online.com)

Yamaha Mio Kompresi Rendah




Yamaha Mio Kompresi Rendah Pakai Bensol Dapat Banyak Juara Drag
Setingan kompresi rendah di Yamaha Mio tim CENSPEED Forty One RPM Racing Line CV KRS 106 ini, bisa kumpulkan 51 piala di kelas Matic Tune up 200 cc sepanjang tahun 2014. Sadis, kan Yamaha Mio kompresi rendah pakai bensol dapat banyak juara drag
“Sebenarnya, 51 piala bukan semua di kelas Matic Tune up 200 cc. Sebagian didapat dari kelas Matic Tune up 155 cc,” bilang Cendy Gerry, Chief Mekanik sekaligus owner tim.
Dibilang kompresi rendah, pasalnya Mio ini dibekali perbandingan kompresi mesin hanya 13,8:1 untuk tenggak bensol (Avgas) biru beroktan 102. Biasanya, dengan konsumsi bensol biru, mekanik develop kompresi di atas 14:1. “Dibikin kompresi rendah, agar putaran bawah enggak terlalu galak. Namun, kitiran tengah ke atas lebih galak,” cetus pria yang juga betot gas di ajang resmi balapan 201 meter.
Yamaha Mio kompresi rendah pakai bensol dapat banyak juara drag pernah tembus best time 7,506 detik saat ditunggangi M. Saiman. Apa lagi kilikan jitu yang diterapkan bengkel CENSPEED dari Jl. Lapan 1 No. 53, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur ini? Ini dia!
Kejar kapasitas 200 cc, piston pakai kepunyaan Honda GL Neotech diameter 63,5 mm. Stroke dibuat naik 2,5 mm lewat tempel pen stroke di kruk as. Isi silinder Mio, jadi 197,8 cc. “Kruk as dikustom ulang, detailnya rahasia ya! Pokoknya, dibandul ulang,” kekehnya. Hasilnya, saat piston berada di titik mati atas, mendem 0,3 mm dari bibir silinder, paking blok 2 mm. Hasilkan kompresi 13,8:1 untuk meminium bensol beroktan 102.(www.motorplus-online.com)

Yamaha Crypton, Korek Harian

Asapi Lawan Berkali-kali



Kelas 58-an (piston 58 mm, red) dengan klep bebas, jadi andalan motor Yamaha Crypton garapan Irfan Fauzi. Ramuannya cukup simple, tapi bisa mengasapi lawan sampai berkali-kali. “Seingat saya motor ini cuma kalah lima kali,” buka Pi’eng, sapaan akrab si mekanik.
Sempat beberapa kali kecot (rusuh, red) perkara pengapian dianggap tidak standar. Pi’eng berani buka-bukaan. CDI standar yang nemplok pada rangka tengah motor ini sempat dipertaruhkan. Tetapi sang lawan malah pulang tanpa perlawanan.
Racikan bengkel 110 Performance sebenarnya hanya mencapai sekitar 145 cc. Hal ini didapat dari penghitungan volume silinder dengan bore 58,5 mm dan stroke 54 mm. Langkah piston segitu didapat setelah big end di kruk as digeser maju 2 mm.
Selanjutnya rasio kompresi dipatok 10,2 : 1 agar aman pakai Pertamax Plus.Tidak terlalu tinggi memang. Makanya motor ini agak lambat di tarikan bawah. Tapi atasnya cuy, melesat cepat hingga mencapai top speed.
Sebagai pengatur masuknya udara dan bahan bakar ke ruang bakar, pria berusia 26 tahun ini menjejalkan klep milik Bajaj Pulsar 180DTS-i dengan ukuran in 30 mm dan ex 26 mm. Kinerja klep dimaksimalkan dengan kem durasi 280. “Kalo detailnya masih rahasia, ukuran kem masih dalam tahap riset. Hehe..,” tuturnya malu.
Karburator sebagai penyuplai kabut bensin juga pegang peranan penting. Tapi, tanpa asupan udara yang pas, pembakaran tidak akan maksimal. Nah, karbu Kawasaki Ninja 150 RR berventuri 28 mm, dianggap mumpuni menggodok keduanya. Settingan spuyer menyesuaikan permintaan mesin. “Pilot jet dan main jet pakai ukuran 48/130,” jelasnya. tunner yang gerainya beralamat di Jl. Margasari Raya, Cimone, Tangerang.(www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan: Hydra 60/80-17
Ban Belakang: FDR Drax 50/90-17
Koil: YZ-125
Knalpot: RC3

Suzuki Satria F-150 2013 Malang

Modif Konstruksi dan Mesin Ikuti Gaya Balap Joki


Bikin motor untuk diadu di trek lurus sepanjang 201 meter, termasuk gampang-gampang susah. Atau, susah-susah gampang ya? Hehehe.... Tapi, hal itu yang dirasakan Mahmudi mekanik tim CMT Geovani asal Malang, Jawa Timur. Makanya, sang mekanik menyesuaikan ubahan Suzuki Satria F-150 ini dengan karakter sang joki, Arif Tijil buat tarung di kelas Bebek 4-tak 200 cc.
Tipikal riding Tijil sendiri, suka akan power diawal dan top speed yang mumpuni untuk melahap trek 201 meter. “Menyesuaikan gaya balapnya, ubahan utamanya ada di rasio kompresi mesin yang diubah jadi 13,8 : 1. Tujuannya, supaya tenaga yang dihasilkan menjadi besar sejak putaran bawah,” tutur mekanik berbadan besar ini.
Kompresi tinggi ini, dihasilkan dari piston standar yang diganti merek LHK diameter 72 mm. Lalu, dome piston dibuat jadi 1,5 mm dari bibir piston paling pinggir. Setelah itu, posisi piston dibuat mendem sebanyak 0,8 dari bibir silinder blok. Kini, isi silinder mesin pun jadi 198,5 cc.
Ruang bakar, ditemani klep Suzuki Thunder 125 yang punya diameter batang klep 4 mm. “Lalu, durasi kem diseting ulang agar bisa bermain di durasi 268 derajat buat in dan 266 derajat buat ex,” kata mekanik dari Jl. Raya Reyoso RT4/3 Bantur, Malang Selatan.
Cak Mut sapaan akrab Mahmudi, sengaja mengganti kampas kopling bawaan motor dengan kampas kopling milik Suzuki TS. “Kampasnya lebih mencengkram. Jadi, setiap perpindahan gigi pun power enggak banyak yang terbuang,” tambah mekanik asal Malang ini.
Melengkapi putaran bawah, magnet standar digantikan lempengan besi dengan bobot 450 gram. “Supaya torsi juga lebih bagus pakai magnet ini. Power akan terasa di kitiran mesin 9.000 - 12.000 rpm,” terangnya sembari bilang engine F-150 ini juga terus diriset. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan: Eat My Dust 50/90-17
Ban belakang: Eat My Dust 60/80-17
Karburator: Keihin PWK 35 mm
Knalpot: Custom

Modifikasi Yamaha Vega 2000 Solo,

 Andalkan Crank case X-1 Jeroan Mesin Vega



Pacuan andalan TDC Vreinz yang digeber Galih Dwi, cukup mengejutkan di TDR Racing International Drag Bike Championship 2014 beberapa waktu lalu di Tegal, Jawa Tengah. Berbekal Yamaha Vega keluaran 2000, joki asal Boyolali ini mampu mencatatkan waktu terbaik di kelas 130 cc.
“Best timenya 7,989 detik,” beber Galih. Otak dibalik melesatnya Vega ini adalah Mahendra Dwi Saputra. Mekanik asal Solo ini coba kawinkan crank case Yamaha X-1 dengan jeroan mesin Vega. Pertimbangannya, sudah pasti karena banyak kelebihan yang dimiliki.
“Kami pakai crank case X-1 karena sudah dilengkapi sistem pompa oli yang lebih baik dibanding Vega. Sehingga mesin bekerja lebih optimal,” beber Mahendra. Langkah ini dilakukan lantaran ia sadar betul bahwa fungsi pelumas bukan hanya melumasi. Tapi, juga sebagai pendingin dan pelapis komponen bergerak di dalam mesin.
“Soalnya, crank case X-1 dilengkapi dua saluran oli yang mengarah ke kepala silinder dan piston. Oli yang disemprotkan ke piston menjadikan suhu piston lebih terjaga. Sehingga mengurangi keausan akibat gesekan, serta pemuaian yang terlalu cepat akibat temperatur tinggi,” terangnya.
Tapi, biar mesin bisa berkitir tinggi, bobot piston dipangkas dengan melakukan pembubutan sebanyak 12,5 mm diukur dari pen piston. “Sedangkan untuk dome-nya, dilakukan pemapasan setebal 6 mm,” terang meknik yang mematok tekanan kompresi sebesar 15,2 psi.
Lanjut ke sistem pengapian, untuk mendapatkan api yang besar dan ketepatan saat pembakaran, menajemen pengapian diserahkan pada Rextor Pro Drag. “Limiter diset di 16.500 rpm,” beber mekanik yang memanfaatkan rotor magnet Vega yang telah dikurangi bobotnya.
Magnet yang ada di rotor dibuang dan dilakukan pembubutan untuk mencapai bobot rotor 500 gram. “Rotor yang telah berkurang bobotnya tersebut, dibikinin balancer seberat 300 gram biar mesin gak getar,” tambahnya.
Terakhir, penyuplai bahan bakar ditugaskan pada PWK 28. Bagian corongnya untuk masuk udara direamer tipis. Pemilihan pilot jet (pj) maupun main jet (mj) tergolong kecil, dipilih kombinasi 58/105 (pj/mj).(www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Pirelli 120/60-17
Piston: Daytona
Magnet: Vega
Knalpot: Creampie
Klep: KLX 250
Mekanik: Mahendra Dwi Saputra (081335956555)

Kawasaki Ninja 150 2010 Jogjakarta, Caplok Pengapian 4SS Motor Bisa Tembus 7 Detik




Kawasaki Ninja 150 korekan tim OTD Racing Team Jogjakarta ini tembus 7,0 detik di trek lurus 201. Best time itu didapat kala bermain di kelas Sport 2-tak Tune up 155 cc di Semarang, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.
Nugroho yang lebih tenar dengan panggilan Potter, peracik motor yang dipacu Muslih Wuri dan Eko Sulistyo ini. “Rahasia seting, terletak di sistem pengapian sudah dirombak total demi hasilkan kinerja mesin yang optimal,” beber Potter.
Sistem pengapian aplikasi dari Yamaha YZ 125. Mulai dari magnet, sepul sampai pada koil pengapian. Menurut mekanik berkaca mata ini, part milik special engine (SE) bikin start menjadi lebih responsif.
Begitu juga dukungan api kala di putaran tinggi. Mungkin, karena karakter YZ 125 yang juga memang cocok buat di putaran tinggi. Jadi, part SE berkode 4SS tersebut diyakini mampu mengantarkan mesin lebih cepat menggapai putaran tinggi. “Bobot magnet ini lebih ringan dibandingkan part yang lain, sehingga putaran mesin jadi ringan. Akhirnya, power bawah akan mudah diraih,” jelasnya.
Magnet YZ yang mempunyai diameter 75 mm memang cukup signifikan mendongkrak power di putaran bawah. Ini yang menyebabkan motor berkelir kuning ini bisa langsung melesat cepat selepas garis start.
Tidak ketinggalan, polesan dibagian port-port yang ada di silinder ikut mendongkrak performa mesin secara keseluruhan. “Untuk saluran exhaust, tingginya dipatok di angka 28 mm. Sedangkan saluran transfer, 42,2 mm,” jelas Potter dari Jl. Sari Rejo, RT. 06/47, Maguwoharjo, Sleman, Jogjakarta. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Karburator: Keihin PWK 38 mm
Ban depan: Eat My dast 50/90 x 17
Ban belakang: Eat my dast 60/80 x 17
Final gir: 13/36 mata
OTD Racing Team: 0856-4362-5050

Bore Up Yamaha Jupiter MX 135LC 2008 Jakarta, Yamaha Jupiter MX 135LC 2008 Jakarta,


 Kapasitas S 262 ccilinder Hingga



Melaju kencang dan tembus 32,11 dk/9.970 rpm
Standarnya diameter piston Yamaha Jupiter MX 135LC, hanya 54 mm. Katanya ketika dipasang seher 73 mm, engine MX ini masih punya jalur cairan pending radiator. Malah, Techno Tunner (TT) mengandalkan pacuan ini buat drag bike dan kerap jadi nomer satu saat lomba.
Kunci Jupiter MX agar bisa dijejalkan piston diameter 73 mm, ada di blok silindernya. “Blok silinder pakai merek Hi-Speed yang boringnya diganti. Boring pakai diesel Yanmar, yang punya diameter luar 79 mm. Dengan penggunaan boring ini, ruang air yang ada di blok jadi makin sempit. Tapi, kita dimaksimalkan. Namun, jalur air radiator yang menuju ke head silinder mesti ditutup. Pasalnya, klep gede aplikasi in 27 mm dan ex 23 mm. Sehingga, tidak mungkin kalau pertahankan jalur cairan radiator di head,” papar Hanasilim, Tuner TT.
Jalur air radiator head ditutup dukung klep ukuran gede
Aplikasi boring diesel ini, Han harus mengikis crankcase untuk dudukan boring. Lubang crankcase dibubut, sebesar diameter luar boring 79 mm. Dengan begitu, baut empat kaki enggak mesti digeser. Lanjut, untuk menutup jalur radiator yang menuju ke atas, Han pakai lem JB Weld. Lem ini, saat kering akan menjadi seperti besi. So, di bagian blok silinder, masih ada air radiator yang mengalir.
Didukung pompa radiator aftermarket buatan Jerman
“Untuk siklus air radiator, dibikinkan jalur baru. Dinding blok silinder atas-bawah dibobok, untuk dibikin nipel jalur air radiator,” jelas Han. Membantu memutarkan air radiator, MX pun dibekali pompa radiator aftermarket bikinan Jerman.Pendinginan air radiator, dimaksimalkan dengan menggunakan radiator kepunyaan Kawasaki Ninja 250R aftermarket.
Jalur air dibikin baru, caranya bobok dinding blok atas-bawah
Tak hanya usung piston 73 mm, MX ini juga naik stroke 4 mm. “Naik stroke 4 mm, berkat pen piston 2 mm. Paking blok tebal 5 mm dan head 0,8 mm, hasilkan perbandingan kompresi 12,2 : 1,” terang Han. Itu artinya, kapasitas engine Jupiter MX jadi sekitar 262,2 cc.
Lubang crank case dibubut mengikuti diameter luar boring
Sebelum penyempurnaan, Jupiter MX ini pernah didyno dengan power 32,11 dk/9.970 rpm dan torsi 25,19 Nm/6.980 rpm. “Targetnya bisa tembus power di angka 35 hp,” pede Han, yang buka workshop di Jl. Kembangan Baru, No. 33, Jakarta Barat. (www.motorplus-online.com)

Satria F150, Paking Selembar = 245 cc

Kerap bikin keok musuh di kelas selembaran 500 meter

Ramainya balap trek lurus malam hari untuk Suzuki Satria F-150, bikin Alfa Alwiar kepincut nimbrung. Akhirnya F-150 miliknya jadi ‘tumbal’ demi memenuhi hobinya ini. Usahanya juga tidak sia-sia. Sudah banyak musuh yang dibuat keok motor milik mekanik yang akrab disapa ‘Ocem’ ini.

“Sekarang lagi ramai untuk jarak 500 meter, jadi kita seting untuk itu. Kalau speknya, main di kelas paking selembaran,” kata Ocem. Untuk mengejar regulasi paking selembaran, setang seher diganti milik Yamaha Scorpio. Setang seher milik sport Yamaha 225 cc ini punya dimensi yang lebih pendek dari milik F-150. Jadi, memungkinkan Ocem untuk menggeser posisi big end sebanyak 4 mm. Itu tanpa harus tambah paking tebal. Hasilnya, kini stroke menjadi 56,8 mm. Hitungannya, 48,8 mm (stroke standar F-150) + 8 mm (total naik-turun) = 56,8 mm.

Buat menambah daya ‘gedor’ power dari putaran bawah, seher standar F-150 yang berdiameter 62 mm juga diungsikan. Gantinya, piston berdiameter 74 mm masuk ke ruang silinder. Hasilnya, kapasitas silinder membengkak jadi 244,8 cc. Dibulatkan, jadi 245 cc.

Tentunya, isi silinder ini termasuk besar buat motor yang usung paking selembar alias paking blok standar. Akibatnya, proses keluar-masuk bahan bakar ke dalam ruang silinder harus disesuaikan. Klep pun ikut diganti. Klep isap pakai yang berdiameter 25 mm, sedangkan klep buang dipatok 23 mm.
Kem dibuat 249 derajat (in), dan 255 derajat (ex), Karburator gambot bantu ‘sembur’ bahan bakar dan udara maksimal

Durasi noken as ikut disesuaikan. Klep in dibuat membuka 19 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 50 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Jadi, noken as klep in punya durasi 249 derajat dengan overlap 2,3 mm.

Lalu, buat durasi noken as untuk klep ex dipatok 255 derajat. Klep buang dibuat membuka 53 derajat sebelum TMB dan menutup 22 derajat sebelum TMA. Overlap klepnya jadi 2,45 mm.

Mengimbangi besarnya isapan, maka part penyuplai campuran bahan bakar dan udara ke ruang bakar juga diganti. Ocem mempercayakan ke karburator Keihin PE 28 mm yang direamer jadi 32 mm.

Supaya motor lebih ngacir sejak putaran bawah, sektor kopling ikut dimaksimalkan. Ocem mengganti per kopling standar dengan tipe racing yang disandingkan kampas kopling Suzuki RGR 150 yang lebih awet dibanding kampas kopling standar F-150. (www.motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI

Ban depan : FDR 60/80-17
Ban belakang  : IRC Eat My Dust 60/90-17
Knalpot : DBS
Karburator : Keihin PE28
CDI : Rextor

Yamaha Mio 2012 Jakarta, Kruk As Istimewa Karena Dikembangkan dari Thailand


Yamaha Mio besutan Ricky Onyez, melesat mulus dengan catatan waktu 8,122 detik. Onyez, terjun di kelas Matic Tune up s/d 155 cc di event bertajuk Pertamina Enduro Comet K-Factory KYT Drag Bike Day Battle Championship (DBDBC) 2013, yang digelar di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat (17/11). Itu artinya Onyez yang dinaungi tim GF Racing K-Tech Boyza berhasil menduduki joki tercepat kelas ini.

“Jadi yang tercepat di kelas Matic Tune up s/d 155 cc, kita coba maksimalkan power bawah hingga atas,” ucap Mukhlisin alias Ucin, mekanik tim GF Racing K-Tech Boyza. Untuk power bawah, Ucin pilih kompresi padat dan pemilihan klep yang pas. Memadatkan perbandingan kompresi mesin, piston dipilih diameter 55,5 mm.

Biasanya, dari bibir silinder ke bibir piston dibikin mendem. Tapi, di Mio ini tidak. “Enggak dibikin mendem, piston dan bibir silinder sejajar dan dome piston ngongol. Untuk mengakalinya, bagian kubah head silinder kena mata tunner sedikit untuk bersarang kepala piston. Sehingga perbandingan kompresi jadi 13,5 : 1. Makanya paling pas saat klep in 28 mm dan ex 24 mm, head-nya dibikin semi bathtub agar enggak terjadi knocking,” bilang Ucin.

“Yang paling istimewa ya di bagian kruk as! Kita order dan didevelop langsung SPS Thiland. Konfigurasi bandul pemberatnya sudah pas untuk kelas 155 cc. Juga, saat stroke up 3 mm, paking masih bisa selembaran. Sehingga torsi cukup melimpah,” promosi Ucin yang juga menjual kalau sobat juga pengin pakai part ini. Tarikan bawahnya sudah pasti joss gandos. Untuk mengimbangi power bawah yang sudah maksimal, giliran finishing putaran atas.

Memaksimalkan putaran atas, tentu komponen CVT mesti kena sentuhan juga. Caranya got di rumah roller dibikin lebih dalam. Sehingga, ruang gerak roller 8-7 gram bisa lebih panjang. Makanya power bisa terus isi dan napas jadi panjang. Juga dimaksimalkan penggunaan per CVT 1.000 rpm. “Dengan konfigurasi ini, tarikan pas start bisa melesat dan tenaga atas bisa keluar seperti tanpa limit,” pede Ucin, yang buka workshop di Jl. Kedoya Raya No. 1, Kedoya Selatan- Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Terbukti! (motorplus-online.com)

Modifikasi : Yamaha Mio Sporty 2006 Depok, Berjuluk Si 'Fatin' dari Siliwangi


Untuk adu kebut kelas 58-nan dan klep besar, Yamaha Mio korekan Asep Risman mengandalkan kapasitas mesin 185 cc. Mekanik Siliwangi Motor dari Jl. Siliwangi No. 22, Depok, Jawa Barat Asep berani buka-bukaan. Menurutnya, ubahan motor telah sesuai dengan regulasi di balap malam. Tidak ada sedikitpun kecurangan yang dilakukannya.
Di mesin, motor rakitan 2006 ini pakai seher Honda Sonic oversize 100 yang punya diameter 58,9 mm. Dikawinkan dengan stroke yang telah digeser posisi big end-nya sebanyak 5 mm. Kapasitas silinder pun membengkak menjadi 184,9 cc alias 185 cc.
Durasi noken as ikut dirubah. Untuk klep isap dibuat berdurasi 282 derajat dan klep buangnya 280 derajat. Rincinya, klep isap dibuat membuka 37 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 65 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buang, membuka 63 derajat sebelum TMB, dan menutup 37 derajat setelah TMA.
“Pelatuk klepnya sudah pakai model roller. Adopsi punya Honda Blade yang sedikit dimodif. Makanya RPM lebih cepat naik dan kem enggak mudah kemakan. Efeknya motor bisa lebih cepat sampai 1 detik,” tambah Asep.
Untuk rumah roller, mengadopsi part Thailand yang berbasis part milik Yamaha Fino. Sudut kemiringan pulley, dibuat menjadi 13,5 derajat. Sedangkan rollernya, menggunakan berat 9 gram rata dan per kopling ganda pakai Yamaha Nouvo. Tuh kan, masih sesuai regulasi.
Hasilnya Yamaha Mio punya julukan Si ‘Fatin’ ini jadi salah satu momok menakutkan bagi lawannya di ajang adu kebut trek lurus malam hari. Meski baru enam kali ‘turun’, motor ini jadi pelahap sadis bagi lawan-lawannya yang keras.
“Total baru enam kali main, lima menang dan satu kalah. Lawannya keras-keras, rata-rata motor yang belum ada ‘obatnya’. Makanya si Fatin jadi beken di arena kebut malam Jakarta Timur,” ucap mekanik yang pernahnimba ilmu pada Herman Lo alias Ahon!  (motorplus-online.com)

Modifikasi Yamaha Mio Sporty 2008 Depok,


Yamaha Mio racikan Bill Motor Speed Shop (BMSS) ini, belum ada ‘obat’ alias lawannya diajang adu kebut treklurus malam hari. Belasan kali turun balap, belum sekalipun motor ini mencicipi kekalahan. Aihhhh....!!
“Sampai sekarang belum pernah kalah. Malahan pernah satu malam kita hatrick, menang tiga kali berturut-turut,” ucap Jon Ceper yang biasa jadi joki motor ini.
Penasaran dengan motornya, Bambang Winarko alias ‘Tablo’ mau buka-bukaan untuk motor yang diraciknya. Motor ini sendiri, biasa main di wilayah Jakarta Selatan untuk kelas piston 58 mm dengan klep standar.
Buat angkat performa motor sesuai ‘regulasi’, Tablo mengadopsi piston Honda GL-Pro Neo Tech oversize 150. Besar piston jadi pas 58 mm. Dikawinkan dengan stroke standar Mio yang 57,9 mm, membuat kapasitas mesin membengkak menjadi 152,8 cc. Dibulatkan menjadi 153 cc.
Klep masih menggunakan standar namun sudah sedikit dimodif. Tebal batang klep yang berada di dekat payung klep, dibuat lebih ramping 1 mm.
Tujuannya untuk meringankan kerja klep. Jadi, bisa teriak lagi di putaran atas. Karena rpm masih bisa naik lebih tinggi dengan bobot klep yang ringan. Selain itu, juga agar flow bahan bakar dan udara lebih besar masuk ke ruang bakar.
Di bagian head silinder, ikut dilakukan beberapa ubahan. Agar asupan bahan bakar semakin kaya, lubang isap dan buang dibesarkan. Lubang isap dibuat berukuran 21 mm, dan lubang buangnya dipatok 19,5 mm. Sudutsquish-nya ikut disesuaikan, menjadi 12 derajat.
Mengatur lamanya buka-tutup klep, durasi kem ikut disesuaikan. Kem in dibuat 276 derajat dan ex 273 derajat. Rincinya, klep isap dibuat membuka 41 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 55 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buang, membuka 52 derajat sebelum TMB, dan menutup 41 derajat setelah TMA.
Karburatornya masih standating-ting, tidak direamer. Untuk trek 500 meter, biasanya pakai pilot jet 45, danmain jet 120. Tapi, disesuaikan sama suhu saat main juga,” sebut mekanik yang bengkelnya di Jl. Markisa Raya, Cinere, Depok, Jawa Barat.
Di bagian CVT, dilakukan ubahan pada derajat puli jadi 13 derajat. Kampas kopling ganda, pakai merek SPS. Sedangkan roller, pakai yang beratnya 8 gram rata. Lewat kombinasi ini, power atas bawah tetap terjaga.
"Untuk pengapian, magnet dan koil masih pakai part standar pabrik. Tetapi CDI diganti pakai punya Yamaha Mio keluaran pertama," tambah Tablo sembari bilang katanya kurva pengapiannya lebih cocok buat pacuannya itu.
Penasaran? (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : FDR Drax 50/90-17
Ban belakang : Mizzle 60/80-17
Knalpot  : Custom
Setang: SPS
BMSS: 0856-180-3020

Honda Sonic, Langsung Menang Berkat Head CBR250R!



Honda Sonic yang didatangkan langsung dari Thailand ini, mampu membuktikan dominasinya. Tim JFK VincentÔÇÖs Marcelio AMS Oil asal Semarang, Jawa Tengah, menurunkannya di kelas Bebek Tune Up s/d 200 cc.

ÔÇ£Motor ini kita beli dari salah satu tim drag bike yang ada di Thailand. Baru pertama ini ikut kejuaraan drag di Indonesia,ÔÇØ buka Marlon selaku pemilik tim.

Kelas yang sebelumnya menjadi langganan Suzuki Satria F-150 untuk naik podium, kini mulai terusik dengan kedatangan motor yang aslinya hanya 125 cc ini. Meski pertama diadu, pacuan ini sudah langsung jadi yang tercepat dengan torehan waktu 7,394 detik di trek 201 meter.
ÔÇ£Terus terang, setingan motor ini dilakukan di Thailand. Kami diberikan manual book untuk perawatan dan penggantian komponen,ÔÇØ terang pria yang punya usaha pengolahan plastik ini.

Walau agak sedikit tertutup dengan teknologi yang dibenamkan pada motor itu, tetapi kita akan coba kupas lebih dalam. Sonic ini, mengandalkan kepala silinder dari motor sport Honda untuk gantikan kepala silinder aslinya.

ÔÇ£Untuk kepala silinder, pakai Honda CBR250,ÔÇØ tambah Barra Weda, joki tim yang ikut ambil motor ini di Thailand. Dengan aplikasi kepala silinder dari CBR250, diyakini pasokan bahan bakar yang masuk ke ruang bakar semakin sempurna.
ÔÇ£Selain itu, jadi enggak perlu lakukan pembesaran katup isap dan katup buang,ÔÇØ jelas Barra. Kelebihan lainnya, head silinder CBR 250 terdapat dua kem yang masing-masing kem tersebut menggerakkan dua katup.

ÔÇ£Berbeda dengan yang ada pada Satria F-150. Tiap camshaft terdapat dua bumbungan yang masing-masing menggerakkan katup. Kalau di CBR250, satu kem menekan dua katup. Ini yang membuatnya lebih efisien,ÔÇØ sambung Fendi P. Novian rekan satu tim Barra.

Efeknya, jadi lebih efisien dari segi gesekan maupun bobot mesin. Akhirnya, membuat akselerasi lebih cepat digapai. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Piston: Hi-Speed
CDI: Sindengen
Pompa radiator: Mitsubishi
Koil: Denso5
 

Modifikasi : Suzuki Satria 2011 Jakarta Durasi Kem Sengaja Dibikin Lebih Rendah




Dunia balap liar Jakarta Timur pasti tahu Suzuki Satria geberan Tompel. Sebelum dikalahkan Jupiter MX korekan Hawadis, dulunya bejaban. Untuk geber di trek 500 meteran, durasi kem dibuat rendah. Mirip korek jalanan.
Untung dari Fokus Maju Motor mematok durasi klep isap membuka 24 sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 50 setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buang membuka 49 sebelum TMB dan menutup 27 setelah TMA.
Kalau dijumlahkan, durasi klep isap hanya 254 dan klep buang 256°. Lumayan kecil untuk ukuran motor balap liar dengan trek 500 meter. Motor balap dengan trek lebih pendek aja rata-rata di atas 265 atau bahkan sampai 270°.
Mengakali durasi bukaan klep yang rendah, Untung kasih final gir yang berat. Gir depan 16 dan belakang 38. Selain itu juga diimbangi dengan rasio kompresi yang lumayan rendah. Agar napas mesin tidak mudah abis.Rasio kompresi hanya dibuat 11 : 1.
Karakter gir berat dan rasio kompresi rendah menguntungkan di balap liar. Napas mesin yang panjang cocok untuk trek 500 meter. Bandingkan dengan balap resmi dengan trek panjang hanya 200 meter.
Namun di balap liar kelas bebasan membolehkan kapasitas silinder didongkrak besar. “Untuk itu piston menggunakan milik Yamaha Scorpio yang 70 mm,” jelas Untung dari markasnya di Jl. Layur No. 24, Jakarta Timur.
Ukuran lubang pen seher Scorpio 16 mm. Pas dipadukan dengan setang seher Yamaha RX-Z yang terpasang. Maksud penggunaan setang RX-Z juga agar bisa menggeser posisi big end keluar banyak. Agar didapat strokeatau langkah seher 62 mm.
Kini kapasitas silinder lumayan bengkak. Jadi 238,5 cc atau digenapkan jadi 240 cc. Bengkaknya kapasitas silinder besar, dibutuhkan gas bakar yang gede juga. Untung pasang klep besar milik Suzuki Thunder. Ukuran klep isap 25,5 mm dan klep buang 22,5 mm.
Lubang isap dibuat 30 mm kemudian makin ke dalam membesar. Sedangkan lubang buang dibuat 25 mm sesuai dengan diameter lubang pipa knalpot yang dicomot dari merek AHM Malaysia.
Selain itu gas bakar diimbangi dengan karburator gede. “Dipilih Keihin PJ 34 mm. Pilot-jet 52 dan main-jet132,” jelas Untung yang juga ikut balap resmi.
Sektor pengapian terapkan CDI buatan BRT-Bintang Racing Team. Dipilih yang 24 step.
Untuk memindahkan power yang besar, kampas kopling dipasang 6 lembar. Kampas kopling aplikasi yang asli SGP. Ditekan per kopling RMG yang paling keras. (motorplus-online.com)

Modifikasi : Yamaha Jupiter Z 2008 Depok, Lebih Pede dengan Bore Up Sampai 130 cc



Kencang dengan setingan baru
Melihat malangnya nasib Yamaha Jupiter Z yang teronggok di sisi bengkel, bikin hati Junaedi tersentuh. Alhasil, mekanik Emmsa British Auto Tech ini kembali membangunnya dengan spek yang berbeda.

Siapa sangka, motor yang dulunya sempat tidak diurus ini, sekarang bisa mempecundangi lawan-lawannya di adu kebut trek lurus malam hari dengan panjang lintasan 500 meter.

“Semuanya dibangun ulang dengan setingan yang berbeda. Setingan sekarang dibuat untuk main di kelas bebek 130 cc. Makanya semua disesuaikan,” ucap mekanik yang bengkelnya di Jl. Raya M. Yusuf, Depok, Jawa Barat.

Mengangkat tenaga mesin, piston standar digantikan dengan baru yang berdiameter 55 mm. Lebih besar 3 mm dibanding piston awal. Stroke dibiarkan standar, jadi isi silinder membesar menjadi 128,7 cc yang dibulatkan menjadi 129 cc.

Mengimbangi pembesaran ruang bakar, klep diatur ulang agar asupan bahan bakar semakin banyak. Klep in menggunakan klep berdiameter 28 mm, dan ex pakai 24 mm. Saluran masuk dan buang di kepala silinder juga dibesarkan. Ukuran dibuat sama dengan lebar payung klep isap dan buang.
Untuk mekanis buka-tutup klep, dibuat seragam antara isap dan buang di angka 276 derajat. Hitungannya, klep in dibuat membuka 33 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 63 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buang membuka 63 derajat sebelum TMB, dan menutup 33 derajat setelah TMA.

Kepala silinder juga mendapat ubahan, selain dipapas sebanyak 0,7 mm, sudut squish juga diubah. Hasilnya, kini ‘Jupie’ racikan Juna bermain di angka kompresi 13,2 : 1. Dengan angka kompresi sebesar itu, kini motor wajib alias harus minum bensol.

Bagian pengapian juga tidak ketinggalan. Dibuat model total loss yang didukung dengan koil milik Yamaha YZ 125, dan CDI Vortex Prodrag. Mesinpun jadi lebih mudah mengais tenaga sejak putaran awal.

“Untuk bagian kopling, pakai bak milik Yamaha X1. Kampasnya adopsi kepunyaan Suzuki FR 80 agar lebih awet dan tidak mudah slip,” tambah Juna.

Usai mesin, giliran bobot jadi pertimbangan. Buat dapatkan bobot motor yang ideal, bagian rangka ikut dimodif. Rangka bagian belakang disunat dan diganti dengan rangka baru yang lebih ringan. Ukuran tangki dan jok ikut diciutkan agar motor semakin ringan.
 (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan: Corsa 50/90-17
Ban belakang: IRC 60/80-17
Knalpot: Joyo Racing
Setang: LHK
Sok depan: LHK

Motor Harus Dimiringkan, Agar Kopling Motor Drag Tetap Basah




Dimiringkan bukan buat gaya-gayaan
Brother yang doyan lihat balapan lurus, terkadang lihat para joki memiringkan motor sebelum start. Contohnya seperti foto di atas. Itu bukan bergaya biar kelihatan unik. Tapi, ada alasannya teknisnya kenapa tunggangan dimiringkan.

“Untuk basahin kopling. Oli mesin untuk motor drag enggak sepenuh motor road race atau harian,” ujar Andi Makhrizal, juru korek drag tim JFK Vincent (JV), Jakarta Pusat.

Tuh, dengar omongan Makhrizal yang juga menganjurkan supaya joki di tim JV memiringkan motornya. Tapi, perhatikan ke arah mana motor dimiringkan.

Kuda besi balapan lurus, sedikit direbahkan ke arah kiri jika dilihat dari depan motor. Sebelah kiri motor ada bagian kopling kuda besi.

“Volume oli motor drag enggak sampai 500 ml. Dengan jumlah yang sedikit, memungkinkan kampas kopling enggak dicelup 100% sama oli. Maka itu harus dimiringkan,” ujar Makhrizal.

Pengisian oli mesin yang hanya maksimal 500 ml, itu karena motor drag dipakai tak sampai 10 detik sekali start. Kalau diisi penuh, enggak banyak manfaatnya.

Memang, kopling motor untuk produksi massal di Indonesia mayoritas kopling basah. Transmisi direndam pelumas. Motor yang dipakai drag sendiri standarnya butuh volume oli 800 ml atau 1.000 ml.

Kebayang, kan pas mesin motor dipakai drag dengan pelicin hanya 500 ml? Kalau kampas kopling enggak dilumasi 100%, kampas akan selip. Kalau sudah selip, akselerasi saat motor melesat dari garis start bisa tertahan. Akibatnya, catatan waktu terbaik enggak bakalan bisa dibikin tuh. “Kurang pelumas, lama-lama kampas kopling bisa hangus,” tutup Makhrizal.
(motorplus-online.com)

Suzuki Satria F-150 2008, Juara Kelas 200 cc Karena Main Kompresi 13,8 : 1


Juara 1,2 & 3 kelas bebek 200 cc di event drag bike Gresik, Jawa Timur
Berdasarkan teori itulah tim Lembu Speed Conk’s asal Sorong, Papua mempercayakan racikan Suzuki Satria F-150 miliknya ke mekanik andalannya. Yaitu, Fauzan Rozi yang buka bengkel di Malang, Jawa Timur.
Permintaannya hanya mengubah beberapa bagian di Satria F-150 untuk bertarung di kelas 200 cc. “Ubahan utamanya, pada ubahan rasio kompresi mesin jadi 13,8 : 1. Itu agar tenaga yang dihasilkan menjadi besar,” tutur mekanik asal Kera Ngalam alias Arek Malang ini.
Kompresi ini dihasilkan dari piston merek LHK diameter 72 mm. Buat kejar kompresi itu, dome pistonnya dibikin 1,5 mm. Lalu, posisi pinggir piston dibikin mendem 0,8 dari bibir blok silinder.
Lewat piston ini, kini volume silinder bengkak jadi 198,5 cc. Dibulatkan jadi 199 cc. “Perpaduannya dengan klep milik Suzuki Thunder yang mempunyai diameter 24 mm. Sehingga tenaga di putaran tengah hingga atasnya, lebih jalan,” urai makanik berambut cepak ini.
Nah, dengan kompresi 13,8 : 1 tadi, durasi kem juga diperhitungkan. Supaya kinerjanya bisa maksimal, kem indipatok 268 derajat dan 266 derajat buat ex. “Hanya, butuhkan nafas yang lebih panjang dengan ubahan itu,” terangnya.
Nah, makanya buat cari torsi bawah lebih besar, magnet standar diganti pakai lempengan besi bobot 450 gram. “Lewat cara ini, power pun akan terasa di kitiran mesin 9.000 - 12.000 rpm,” bilangnya.
Menemani power dan torsi besar, Conk sapaan akrab Fauzan juga mengganti kampas bawaan motor. Mencomot kampas milik Suzuki TS, kampasnya lebih ‘gigit’. Jadi, untuk perpindahan gigi, power enggak banyak yang terbuang.
Terakhir, karburator disumbang merek Keihin PWK 35 dengan perpaduan pilot jet 50 dan main jet 122. “Ketemunya githu,” tutup Conk sembari menunjukkan piala juara 1,2,3 di event drag bike Gresik, Jawa Timur minggu lalu. (www.motorplus-online.com)

Yamaha Jupiter-Z, Spek Road Race Turun Drag Bike



Unik memang yang dilakukan tim Ultraspeed Kawahara Protec, saat turun drag bike di sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, akhir bulan lalu. Uniknya apa sih? Tim ini ikutan kompetisi drag bike dengan spek motor road race. Namun, di kelas Bebek 4-tak Tune up 130 cc, Yamaha Jupiter-Z ini menyabet podium pertama.

ÔÇ£Basic motor balap kan sama saja. Bedanya kalau drag enggak utamakan endurance dan road race harus perhatikan ketahanan,ÔÇØ bilang Nicko Suardi, mekanik yang kebagian seting. Nah, berbekal filosofi tersebut, Nicko terapkan di motor yang kala itu dibesut Musa Ucrit.

Spek besutan road race, didapat Nicko lewat aplikasi piston 55,25 mm dan stroke 54 mm yang pinggirnya dibikin mendem 0,5 mm. Kombinasi ini menghasilkan rasio kompresi 13,2 : 1. Dengan kapasitas silinder jadi 129,39 cc atau dibulatkan jadi 130 cc sesuai regulasi.

Untuk mendorong klep in 28 dan ex 23 aplikasi kem dengan durasi extra tinggi. In dan ex dibuat sama, 282 derajat. Hal ini bikin klep in membuka 35 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 67 setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan katup buang membuka 64 derajat sebelum TMB dan menutup 36 derajat setelah TMA. 

ÔÇ£Agar enteng, per klep pakai yang tidak terlalu keras menggunakan part yang masih dalam tahap riset,ÔÇØ cetus Nicko panggilan akrabnya.
Kuncian spek road race bisa ngacir di trek lurus, terdapat dimaping pengapian yang dibikin Nicko. ÔÇ£Api dibikin meletik 38,5 derajat sebelum TMA. Caranya tinggal maping di CDI Kawahara yang sudah programable,ÔÇØ terangnya. Ini bedanya spek road race dan drag bikes.

Untuk berlari 201 meter, dicangkok rasio gigi 1 14/34, 2 18/30, 3 21/28 dan 4 23/26 mata. Final gear 13/33. Saat dynotest power terbaca 24 dk dan torsi 18 Nm. Peak power ada digasingan 12.180 rpm. Untuk mulus saat pindah gigi, Mycron diseting menyala di gasingan 13.000 rpm, limiter dibikin di 14.500 rpm.

Saat dibesut Musa Ucrit di Sentul dengan jarak 201 meter tembus 8,41 detik. ÔÇ£Saat start, engine harus dalam kondisi pas. Suhu optimal engine 80 derajat untuk siap diajak race,ÔÇØ bilang Nicko dari Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 42 Ciledug, Tangerang. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Sok belakang: YSS Hybrid
Knalpot: AHM
Koil: Protec Carspeed
Pelek: Kawahar